Pengikut

Translate

,

Mahasiswa UNIM Bone Ciptakan Capsashield, Pupuk Organik Sekaligus Pestisida Hayati untuk Tanaman Cabai

Tim Redaksi
23 Jul 2026, 7/23/2026 WIB Last Updated 2026-07-23T09:08:18Z

UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE--Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone (UNIM Bone) menghadirkan inovasi di bidang pertanian melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K). Mereka mengembangkan Capsashield, produk berbahan organik yang menggabungkan fungsi pupuk dan pestisida hayati untuk tanaman cabai.


Inovasi ini dikembangkan Tim PKM-K UNIM Bone yang diketuai Muhammad Thoriq Z. dengan dosen pendamping Dr. A. M. Irfan Taufan Asfar, M.T., M.Pd. Capsashield dibuat dari bahan-bahan organik lokal seperti feses sapi, bonggol pisang, dan daun gamal yang dipadukan dengan bahan pendukung lainnya melalui proses fermentasi yang terkontrol.


Pengembangan Capsashield berangkat dari kebutuhan petani cabai yang selama ini harus menggunakan pupuk dan pestisida secara terpisah, sehingga membutuhkan biaya dan pengelolaan yang lebih besar. Melalui konsep two in one, Capsashield menawarkan solusi praktis dengan mengintegrasikan fungsi pemupukan dan pengendalian hama dalam satu produk.


Ketua Tim PKM-K, Muhammad Thoriq Z., mengatakan Capsashield dikembangkan sebagai alternatif produk pertanian yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal sekaligus mendukung praktik pertanian berkelanjutan.


"Capsashield kami kembangkan sebagai solusi alternatif bagi petani cabai dengan menggabungkan fungsi pemupukan dan pengendalian hama dalam satu produk. Kami memanfaatkan bahan organik yang tersedia di sekitar seperti feses sapi, bonggol pisang, dan daun gamal sehingga memiliki nilai tambah dan dapat mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan," ujarnya.


Menurutnya, pemanfaatan feses sapi juga menjadi upaya mengolah limbah peternakan agar memiliki nilai ekonomi. Sementara bonggol pisang dan daun gamal dimanfaatkan sebagai bahan organik yang berpotensi mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus membantu menekan organisme pengganggu tanaman.


Capsashield diproduksi melalui proses fermentasi yang dikendalikan dengan memperhatikan komposisi bahan, tahapan produksi, hingga pengujian kualitas sebelum dipasarkan kepada masyarakat.


Dosen pendamping, Dr. A. M. Irfan Taufan Asfar, menegaskan bahwa inovasi tersebut tidak hanya berorientasi pada penciptaan produk, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi petani.


"Pengembangan Capsashield merupakan bentuk implementasi kreativitas mahasiswa dalam mengolah potensi sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi alternatif untuk mendukung budidaya cabai yang lebih efisien dan ramah lingkungan," katanya.


Selain pengembangan produk, tim juga melakukan pengujian, evaluasi, penyempurnaan kualitas, hingga menyusun strategi pemasaran agar Capsashield dapat diterima masyarakat. Produk ini dikemas secara praktis sehingga mudah diaplikasikan pada tanaman cabai.


Tim berharap Capsashield dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida sintetis, sekaligus mendorong pemanfaatan bahan organik lokal sebagai solusi pertanian berkelanjutan.


Ke depan, Tim PKM-K Universitas Muhammadiyah Bone berkomitmen terus mengembangkan kualitas, efektivitas, dan strategi pemasaran Capsashield agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi petani serta membuka peluang kewirausahaan berbasis inovasi.


Tim juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) atas dukungan terhadap Program Kreativitas Mahasiswa, serta kepada Tim Epicentrum Universitas Muhammadiyah Bone yang telah memberikan pendampingan selama proses pengembangan inovasi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi