,

Berawal dari Isyarat Mimpi, Jalan Beton Rp1 Miliar Menuju Pondok Tahfidz As-Surur Dibangun Swadaya

Tim Redaksi
20 Des 2025, 12/20/2025 WIB Last Updated 2025-12-20T12:54:06Z

UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE--Dalam sepekan terakhir, Yayasan Haji Ahmad Surur mendadak menjadi pusat perhatian masyarakat di Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone. 


Yayasan yang dipimpin  H. Faisal Ibrahim Surur, Lc., M.Si ini membangun jalan beton sepanjang 300 meter menuju Pondok Tahfidzul Qur’an As-Surur yang terletak di Kelurahan Pompanua.


Pondok Tahfidz yang berjarak sekira 300 meter dari jalan poros Bone–Pompanua menuju Kabupaten Wajo tersebut kini tengah dalam tahap proses betonisasi penuh, dengan anggaran yang tak sedikit. Total dana yang digelontorkan mencapai Rp1 miliar, seluruhnya berasal dari swadaya Yayasan Haji Ahmad Surur.


Yang menarik, pengerjaan jalan beton tersebut ditangani langsung oleh adik kandung pimpinan yayasan, yakni Ir. Farid, seorang profesional yang berprofesi sebagai Konsultan Pengawas. Rekam jejaknya di dunia konstruksi tidak diragukan lagi. Ia tercatat sebagai salah satu Konsultan Pengawas di proyek strategis nasional Ibu Kota Nusantara (IKN), serta berpengalaman menangani berbagai proyek di sejumlah daerah dan provinsi di Indonesia.


“Saya sedang berada di Papua, tiba-tiba ditelepon kakak agar pulang untuk mengerjakan jalan beton dari arah poros Pompanua menuju Pondok Tahfidz. Waktu yang diberikan hanya satu bulan,” ungkap Ir. Farid.


Meski proyek ini bersifat swadaya, Ir. Farid menegaskan bahwa pihaknya tetap mengedepankan standar dan prosedur resmi. Sebelum pengerjaan dimulai, ia terlebih dahulu melakukan koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Bone, khususnya Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) serta instansi teknis terkait, termasuk sektor irigasi.


“Koordinasi ini penting agar pengerjaan jalan tetap sesuai SOP pemerintah. Jalan ini merupakan aset pemerintah daerah, sehingga meski dikerjakan secara swadaya, standar pembangunan wajib kami patuhi,” jelasnya.


Pengerjaan telah berlangsung selama dua hari, dengan alat berat yang sudah dikerahkan di lokasi. Target penyelesaian pun cukup menantang, yakni satu bulan, sesuai amanah langsung dari pimpinan yayasan.


Namun, di balik proyek besar ini tersimpan kisah spiritual yang menyentuh. Ir. Farid mengungkapkan bahwa inisiatif pembangunan jalan ini berawal dari sebuah mimpi yang dialami oleh Ustadz Dr. KH. Dimas Maryono.


Dalam mimpi tersebut, almarhumah ibunda keluarga Surur menyampaikan pesan agar H. Faisal Ibrahim Surur membangun jalan masuk menuju Pondok Tahfidz. Pesan itu kemudian diyakini sebagai isyarat kebaikan, yang akhirnya diwujudkan oleh keluarga melalui Yayasan Haji Ahmad Surur.


“Dari mimpi itulah kami bersaudara sepakat mewujudkannya. Jalan ini kami bangun sebagai bentuk bakti, amal jariyah, dan jalan menuju cahaya Al-Qur’an,” tutur Ir. Farid.


Pondok Tahfidzul Qur’an As-Suhur sendiri bukan sekadar lembaga pendidikan Al-Qur’an. Tempat ini kerap dikunjungi ulama dari berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Pakistan, Mesir, Sudan hingga Maroko. Salah satu daya tariknya adalah peninggalan bersejarah berupa mushaf dan kitab yang ditulis oleh kakek mereka, Syeikh Abdul Majid al-Muhammady, yang menjadi magnet spiritual bagi para tamu dari mancanegara.


Yayasan Haji Ahmad Surur juga dikenal konsisten dalam aktivitas sosial dan keagamaan. Sebelumnya, yayasan ini telah membangun Aula Serba Guna di Pondok Pesantren As’adiyah Macanang yang diberi nama Aula Muh. Yusuf Surur, serta membangun sebuah masjid di Malino.


Saat ini, Pondok Tahfidzul Qur’an As-Suhur membina sekitar 70 santri, yang seluruhnya berasal dari keluarga kurang mampu dan dibina secara gratis. Lembaga tahfidz ini didirikan pada 1 Agustus 2021, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19, terinspirasi dari kondisi ibunda keluarga Surur yang saat itu menderita sakit kanker dan selalu ingin mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an.


Sejak berdirinya pondok tahfidz tersebut, kehadirannya disambut hangat oleh masyarakat sekitar. Beragam kegiatan sosial dan keagamaan kerap berlangsung, mulai dari aqiqah, Jumat berkah, subuh berkah, hingga resepsi pernikahan yang makanannya dibagikan di pondok. Tak sedikit pula masyarakat yang datang untuk meminta doa, hingga menyumbang secara sukarela, bahkan dari luar daerah.


Di tengah keterbatasan dan kesederhanaan, jalan beton yang kini dibangun itu bukan sekadar infrastruktur. Ia menjadi simbol pengabdian, bakti kepada orang tua, serta komitmen menebar cahaya Al-Qur’an, dari sebuah mimpi yang kini menjelma menjadi jalan nyata menuju kebaikan. (*)

Iklan