Pengikut

Translate

,

Lampu’ Toae Jadi Sorotan Gau’ Maraja, Wabup Bone Dorong Pengembangan Wisata Mangrove Angkue

Tim Redaksi
28 Sep 2026, 9/28/2026 WIB Last Updated 2026-09-28T11:13:27Z

UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE--Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., menghadiri sekaligus membuka secara resmi Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 di Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Angkue, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Senin (28/9/2026).


Festival yang digelar Pemerhati Seni dan Budaya Bone (PSBB) Sangdara Periode 2025–2026 tersebut menjadi ruang untuk mengangkat kembali seni, tradisi, sejarah, dan pengetahuan lokal masyarakat pesisir Bone.


Mengusung tema “Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas Masyarakat Pesisir Bone”, kegiatan ini sekaligus menjadi momentum memperkenalkan kembali potensi sejarah dan budaya Lampu’ Toae kepada masyarakat, khususnya generasi muda.


Ketua PSBB Bone Sangdara, Wiwin Wahyuni, S.Tr.AB., mengatakan kegiatan tersebut terlaksana melalui fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan.


Menurutnya, pemilihan Lampu’ Toae sebagai lokasi festival merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya yang terdapat di wilayah Kajuara.


“Kami berharap generasi muda dapat mengenal, mencintai dan ikut menjaga warisan budaya yang ada di daerahnya,” ujarnya.


Selain budaya, festival juga mengangkat isu pelestarian lingkungan pesisir. Yayasan Lontara Hijau turut memberikan dukungan berupa 1.000 bibit mangrove serta 2.000 bibit pohon dan buah untuk mendukung penghijauan dan kelestarian ekosistem Desa Angkue.


Perwakilan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Iswadi, S.S., M.A., menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bone, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, komunitas budaya dan berbagai pihak dalam pemajuan kebudayaan.


Dalam rangkaian kegiatan, Wakil Bupati Bone juga melakukan penyerahan bibit mangrove secara simbolis. Masyarakat turut membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter sebagai simbol semangat kebangsaan dan persatuan dalam menjaga budaya, lingkungan dan daerah.


Andi Akmal mengapresiasi festival yang memadukan unsur budaya, maritim, lingkungan dan nasionalisme tersebut.


“Budaya dan lingkungan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus kita dukung agar nilai-nilai budaya tetap hidup sekaligus kepedulian terhadap lingkungan semakin tumbuh di tengah masyarakat,” ujar Andi Akmal.


Dorong Wisata Mangrove


Wabup Bone melihat kawasan pesisir Desa Angkue memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata, khususnya melalui pengelolaan kawasan mangrove.


Menurutnya, pengembangan potensi tersebut dapat membuka alternatif sumber ekonomi bagi masyarakat sehingga tidak hanya bergantung pada sektor penangkapan ikan.


“Ke depan, kita tidak hanya bergantung pada penangkapan ikan laut. Bagaimana kita memaksimalkan potensi yang ada di desa ini untuk ekonomi masyarakat,” katanya.


Andi Akmal mengatakan Pemkab Bone akan melihat peluang pengembangan kawasan mangrove Desa Angkue secara lebih serius. Ia bahkan menyebut rintisan pengembangan wisata mangrove di kawasan tersebut diharapkan dapat mulai didorong pada tahun mendatang.


“Insyaallah tahun depan kita coba membuat rintisan untuk mangrove di Desa Angkue ini. Kita lihat potensinya dan kita berikan dorongan anggaran dari APBD Kabupaten Bone,” ujarnya.


Ia juga mendorong agar festival budaya dan pariwisata seperti Lampu’ Toae dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.


Desa Angkue, kata dia, memiliki sejumlah modal pengembangan, mulai dari Kampung Nelayan Merah Putih, kawasan mangrove, pelabuhan hingga kekayaan budaya masyarakat pesisir.


Karena itu, kolaborasi pemerintah, komunitas budaya, masyarakat, dunia pendidikan dan generasi muda dinilai penting untuk memastikan potensi tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan.


Dengan demikian, Festival Maritim Lampu’ Toae diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu membuka ruang bagi pelestarian budaya, pengembangan wisata dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir Bone.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Bone, Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, unsur Tripika Kecamatan Kajuara, para camat, kepala desa dan lurah, kepala sekolah se-Kecamatan Kajuara, komunitas budaya, pemuda, pemerhati kebudayaan serta masyarakat.


Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus membangun kesadaran bersama dalam menjaga ekosistem pesisir Bone.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi