,

Sejarah Benteng Balangnipa Sinjai Dikuasai Belanda Pada Tahun 1859

Tim Redaksi
5 Jan 2025, 1/05/2025 WIB Last Updated 2025-01-05T15:08:51Z

UJUNGPENAMEDIA.COM--Rumpa'na mangarabombang atau perang mangarabombang merupakan perang dahsyat dalam sejarah Sinjai melawan agresi Belanda.  


Pada perang tersebut, Belanda berhasil merebut Benteng Balangnipa sekitar tahun 1859 dari Kerajaan Tellu Limpoe akibat kekuatan dan peralatan perang kerajaan Tellu Limpoe tidak setara dengan peralatan Belanda. 


Benteng Balangnipa di dirikan pada tahun 1557 dari persetujuan tiga kerajaan Bulo-bulo, Tondong dan Lamatti, yang umumnya di kenal dengan nama kerajaan Tellu limppo'e.  


Pada awal mula pembangunanya, Benteng Balangnipa hanya bermaterial atau terbentuk dari batu gunung yang di padukan dengan lumpur dari sungai tangka yang ketebalan dinding bangunan 'SIWALI REPPA (Setengah depan). Model dan rangkaian bagunan Benteng Balangnipa tersebut adalah segi empat dan mempunyai empat buah bastion (Pertahanan).  Ketika penjajah Belanda ingin menyerang dan menguasai Sinjai, Benteng Balangnipa di jadikan sebagai benteng pertahanan untuk mencegah serangan penjajah Belanda dari perairan Bone. 


Tahun 1636 orang Belanda mulai datang ke daerah Sinjai. Kerajaan-kerajaan di Sinjai menentang keras upaya Belanda untuk mengadu domba menentang keras upaya Belanda untuk memecah belah persatuan kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. 


 Hal ini mencapai puncaknya dengan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-Bulo untuk melakukan perang terhadap kerajaan Gowa. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1639. Hal ini disebabkan oleh rakyat Sinjai tetap berpegang teguh pada PERJANJIAN TOPEKKONG.  


Tahun 1824 Gubernur Jenderal Hindia Belanda VAN DER CAPELLAN datang dari Batavia untuk membujuk I CELLA ARUNG ( PUANG CELLA MATA) Bulo-Bulo XXI agar menerima perjanjian Bongaya dan mengizinkan Belanda Mendirikan Loji atau Kantor Dagang di Lappa tetapi ditolak dengan tegas. Ketika matahari sebentar lagi akan terbenam di pertengahan Maret 1825, Raja Bulo-Bulo mempersilahkan para pabarani masuk istana.


 Para pemimpin pasukan mengucapkan ikrar- ikrar keberanian di hadapan Raja Bulo-Bulo. Setelahnya, La Makkaroda bersama Para pemimpin pasukan menyiapkan strategi perang lalu mengevakuasi Raja Bulo-Bulo ke Patimpeng. 


Saat evakuasi Raja, Lainro mengambil alih kekuasaan dalam masa perang berlangsung sebagai panglima tertinggi angkatan perang tellulimpoE. Tanggal 19 Maret 1825, serangan armada Belanda dimulai, Induk pasukan kerajaan Bulo-Bulo beserta laskarnya dari kerajaan Awang Tangka menempati benteng Mangarabombang dan tokoh-tokoh di bawah pimpinan panglima kerajaan Bulo-Bulo Baso Kalaka. Laskar kerajaan Tondong menempati Tui di bawah pimpinan Tolere Daeng Palinge. Laskar kerajaan Patimpeng di bawah pimpinan Mappabali Petta Tulolo menempati Pasahakue dari Baringeng. Laskar kerajaan Lamatti menempati Larea-rea dan Sungai Tangka di bawah pimpinan I Bangnya Dg. Sisila dan Laskar gabungan lainnya di bawah pimpinan La Muhammad dan laskar Cakkela di bahwah pimpinnan La Mattanete menempati sebuah benteng paling selatan. Sementara Pasukan Induk Besse Kajuara bersama utusan Tellu PoccoE mempertahankan pelabuhan Bajoe, yang dipimpin oleh Arung Amali bersama Besse Kajuara. 


Dan akhirnya pendaratan pasukan marinir di Mangngarabombang dimulai, pertempuran itu berkobar dan berlangsung sengit empat hari empat malam. Pasukan darat dan laskar bantuan dari arah Kajang setelah melalui pertempuran pasukan TellulimpoE di Kaloling sepanjang jalan menuju Baringeng itu langsung ikut terjun dalam medan pertempuran yang sengit di Mangngarabombang. Jenderal Van Geen lalu memutuskan menarik pasukannya karena tidak menemukan Raja Bulo-Bulo,    I Cella sebagai Pemimpin tertinggi dalam sejarah Perang tersebut sepanjang kisah hidupnya tak sekali pun takluk kepada Belanda. Ia adalah perempuan yang anti terhadap Belanda. (*)

Iklan