UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE--Keluarga bayi laki-laki yang meninggal dalam kandungan di RSUD Tenriawaru, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mempertanyakan proses penanganan medis terhadap ibu bayi sebelum dinyatakan mengalami kehilangan janin.
Nenek bayi, Rahmawati, mengaku kecewa terhadap dugaan lambatnya respons tenaga medis ketika kondisi menantunya disebut semakin memburuk. Ia meminta pihak rumah sakit dan dokter yang menangani memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kronologi serta pertimbangan medis selama proses perawatan.
Hal tersebut disampaikan Rahmawati dalam konferensi pers di kediamannya di Jalan Hos Cokroaminoto, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, Kamis (15/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia didampingi ayah bayi, Andi Muhammad Aldiansyah.
Dengan penuh kesedihan, Rahmawati menceritakan rangkaian kejadian yang dialami keluarganya. Ia beberapa kali menangis saat menyampaikan keterangan sambil menggendong jenazah cucunya.
Menurut Rahmawati, menantunya sebelumnya telah beberapa kali menjalani perawatan di RSUD Tenriawaru akibat kontraksi dan sejumlah keluhan kesehatan lainnya.
Pada perawatan pertama, pasien dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan karena mengalami kontraksi. Setelah mendapatkan penanganan, keluarga mendapat informasi bahwa pasien memerlukan suntikan untuk pematangan paru-paru bayi.
Menantunya kemudian menjalani perawatan selama sekitar dua hingga tiga hari sebelum diperbolehkan pulang.
Namun, beberapa waktu kemudian, pasien kembali dirawat karena mengalami sakit perut yang disertai muntah dan diare. Selama menjalani perawatan lanjutan, kondisi pasien kembali menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga.
Rahmawati menuturkan, keluhan semakin mengkhawatirkan ketika menantunya mengalami kram perut disertai keluarnya darah dan lendir dari jalan lahir.
Menurut pengakuan keluarga, kondisi tersebut terjadi pada sore hari sebelum bayi akhirnya dinyatakan meninggal dalam kandungan.
Keluarga Pertanyakan Respons Tenaga Medis
Rahmawati mengaku telah meminta perawat menyampaikan kondisi pasien kepada dokter yang menangani. Namun, menurut keterangannya, dokter belum memberikan respons ketika keluarga berupaya menghubunginya.
Keluarga juga menyebut pasien sempat diberikan obat pereda nyeri. Akan tetapi, rasa sakit yang dialami disebut tidak kunjung mereda hingga membuat keluarga semakin khawatir sepanjang malam.
Melihat kondisi menantunya yang terus kesakitan, Rahmawati mengaku telah meminta tenaga medis memberikan perhatian lebih terhadap pasien.
Keluarga juga mempertanyakan alasan tindakan operasi belum dilakukan ketika keluhan pasien dinilai semakin berat.
Menurut penuturan keluarga, mereka mendapat penjelasan bahwa berat badan bayi saat itu belum mencapai dua kilogram. Rahmawati mengaku mempertanyakan pertimbangan tersebut karena menilai kondisi menantunya sudah membutuhkan perhatian serius.
Pada pagi harinya, Rahmawati kembali menghubungi dokter melalui pesan WhatsApp untuk menanyakan kondisi pasien sekaligus meminta petunjuk medis.
Dalam perkembangan berikutnya, menurut keterangan keluarga, air ketuban pasien pecah dan detak jantung bayi mengalami penurunan sebelum ibu dibawa ke ruang operasi.
Andi Muhammad Aldiansyah juga menyampaikan bahwa detak jantung bayi sempat disebut meningkat hingga 160 kali per menit, sebelum kemudian turun menjadi sekitar 80 kali per menit.
Setelah itu, pasien dibawa ke ruang operasi. Namun, bayi laki-laki tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dalam kandungan.
Minta Klarifikasi dan Pertimbangan Medis
Atas kejadian tersebut, Rahmawati meminta pihak RSUD Tenriawaru dan dokter yang menangani menjelaskan secara rinci kronologi penanganan pasien, termasuk pertimbangan medis yang mendasari setiap tindakan selama perawatan.
Ia menegaskan bahwa kekecewaannya bukan semata-mata karena bayi meninggal, melainkan karena keluarga mempertanyakan respons tenaga medis ketika pasien mengalami kondisi yang dinilai semakin memburuk.
“Kalau ajal namanya semua pasti meninggal. Tidak ada yang bisa menolak kematian. Tapi saya kecewa karena ada proses yang saya anggap lambat,” kata Rahmawati.
Ia kembali menyoroti respons tenaga medis yang menurutnya perlu mendapat penjelasan, terutama saat pasien mengalami keluhan yang tidak biasa.
“Saya kecewa karena ada proses yang lambat, terutama merespons pasien yang membutuhkan perhatian khusus seperti ini. Kondisinya memang sudah sangat tidak normal,” ujarnya.
Rahmawati mengatakan, keluarga masih menunggu penjelasan resmi dari pihak rumah sakit untuk mengetahui alasan medis di balik penanganan yang diberikan kepada menantunya.
“Saya tunggu klarifikasi dari pihak rumah sakit dan pihak dokter yang menangani. Saya mau tahu apa alasannya, alasan medisnya apa,” katanya.
Terkait kemungkinan menempuh jalur hukum, Rahmawati mengaku belum mengambil keputusan. Keluarga akan mempertimbangkan langkah selanjutnya setelah memperoleh penjelasan dari pihak-pihak terkait.
“Untuk langkah hukum, nanti saya pertimbangkan kembali setelah mengetahui semua penjelasan dari pihak-pihak terkait,” ujarnya.
Sementara itu, pihak RSUD Tenriawaru saat dikonfirmasi terkait kejadian tersebut belum memberikan respons.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak rumah sakit mengenai kronologi penanganan pasien, pertimbangan tindakan medis, maupun penyebab bayi dinyatakan meninggal dalam kandungan.
Dengan demikian, dugaan keterlambatan respons medis yang disampaikan keluarga masih memerlukan klarifikasi dari pihak rumah sakit dan penelusuran lebih lanjut untuk memperoleh gambaran utuh mengenai kejadian tersebut.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan saran dan informasi