Pengikut

Translate

,

Sampah Menumpuk di Tanggul Bajoe Jelang Adipura 2026, Pemuda Soroti Pengelolaan Lingkungan

27 Okt 2026, 10/27/2026 WIB Last Updated 2026-10-27T07:36:47Z


UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE--Tumpukan sampah di kawasan tanggul Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, menuai sorotan masyarakat dan kalangan pemuda di tengah persiapan Pemerintah Kabupaten Bone menghadapi penilaian Adipura 2026. (27/10/2026)


Pemuda setempat, Ferdiansyah, mengaku kerap melihat seseorang yang disebutnya sebagai aparat Kelurahan Bajoe membuang sampah menggunakan kendaraan roda tiga. Saat ditanya, orang tersebut disebut menyampaikan bahwa pembuangan sampah itu dilakukan atas perintah Lurah Bajoe.


“Saya sering melihat aparat kelurahan membuang sampah di tanggul Bajoe menggunakan kendaraan roda tiga. Saya juga pernah bertanya langsung mengapa sampah dibuang di situ, dan orang tersebut mengatakan bahwa itu atas suruhan Pak Lurah. Kami berharap persoalan ini segera diklarifikasi agar semuanya menjadi jelas,” ungkap Ferdiansyah.


Sementara itu, Arjuna menyayangkan kondisi tanggul Bajoe yang masih dipenuhi sampah menjelang penilaian Adipura 2026. Ia berharap pemerintah memastikan kebersihan lingkungan terjaga secara konsisten, bukan hanya berfokus pada persiapan penilaian.


“Sangat disayangkan jika persoalan sampah di tanggul Bajoe masih terjadi di tengah persiapan Adipura 2026. Pemerintah seharusnya memastikan kebersihan lingkungan terjaga secara konsisten, bukan hanya berfokus pada persiapan penilaian. Kami berharap persoalan ini segera dituntaskan dan ada tindakan nyata agar sampah tidak terus berserakan,” tegas Arjuna.



Dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Lurah Bajoe, Apriadi, S.Sos., menjelaskan bahwa keterbatasan kontainer menjadi salah satu kendala pengangkutan sampah di lokasi tersebut. Ia menyebut sampah biasanya dibakar karena tidak tersedia kontainer, sementara sampah di kawasan itu, menurutnya, banyak berasal dari warga.


“Iye, biasanya dibawa di sana langsung dibakar karena kontainer tidak tersedia, Pak,” tulis Apriadi.


Ia mengaku telah berkoordinasi dengan staf kelurahan untuk mendatangkan kontainer pengangkut dan menyebut biaya pengangkutan terkadang ditanggungnya sendiri. Namun, ia mengatakan kapasitas pengangkutan masih terbatas dan belum tersedia tempat pembuangan permanen.


“Saya biasa kerja dengan staf kelurahan, panggilkan kontainer untuk angkut dan saya biayai sendiri, Pak. Cuma kadang kontainer kewalahan, tidak ada yang bisa bantu angkut,” jelasnya.


Apriadi juga menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya mencari solusi agar tumpukan sampah dapat dibersihkan. Namun, menurutnya, persoalan kembali terjadi karena warga masih membuang sampah di lokasi tersebut dan belum tersedianya tempat pembuangan permanen.


“Maaf, Pak, kami sangat berterima kasih kalau ada warga yang peduli seperti itu. Tapi sampah di dalam itu justru saya yang selalu carikan solusi agar habis, tetapi dari warga tidak ada hentinya membuang karena tidak adanya tempat yang permanen,” ungkapnya.


Persoalan sampah di tanggul Bajoe tidak hanya menyangkut estetika, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan pesisir. Pembakaran sampah secara terbuka pun berisiko menimbulkan pencemaran udara dan gangguan kesehatan.


Pemerintah Kelurahan Bajoe bersama pemerintah kecamatan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone diharapkan segera mengevaluasi kondisi di lapangan, memperkuat pengawasan, serta mencari solusi pengangkutan dan tempat penampungan sampah yang memadai. Masyarakat juga diharapkan tidak membuang sampah sembarangan.


Menjelang penilaian Adipura 2026, kondisi tanggul Bajoe menjadi perhatian bersama. Penanganan yang berkelanjutan, fasilitas yang memadai, dan keterlibatan masyarakat diperlukan agar kawasan pesisir tidak terus menjadi lokasi penumpukan sampah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi