UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE--Lantunan ayat-ayat suci tak pernah berhenti menggema di ruang utama Vihara Dharma Palakka. Sejak Sabtu (27/6/2026) pukul 09.00 Wita, umat Buddha dari berbagai daerah bergantian melafalkan Pujamantra, memastikan doa terus mengalir tanpa henti selama 24 jam hingga Minggu (28/6/2026) pagi.
Tradisi doa tanpa jeda tersebut menjadi pembuka rangkaian Gema Raya Sannipata Trisuci Waisakha Puja 2570 BE/2026. Kegiatan ini mempertemukan umat Buddha dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga tamu dari Jakarta dan Bali dalam suasana penuh khidmat dan kebersamaan.
Setiap kelompok mendapat giliran selama satu jam untuk melanjutkan pembacaan ayat-ayat suci, sehingga lantunan doa tidak pernah terputus. Estafet doa yang berlangsung siang dan malam itu menjadi simbol persatuan, keteguhan spiritual, serta semangat kebajikan.
Ketua PSMTI Kabupaten Bone, Hakim Lewa, mengatakan doa bersama menjadi pembuka rangkaian kegiatan sebelum puncak acara berupa peresmian gedung baru pada Minggu pagi.
"Doa bersama ini berlangsung selama 24 jam, dimulai pukul 09.00 Wita hari ini hingga pukul 09.00 Wita besok. Doa dilakukan secara bergantian oleh para tamu dari Jakarta, Makassar, dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Barat. PSMTI Bone juga ikut terlibat menyukseskan kegiatan ini," ujarnya.
Hakim menilai kegiatan tersebut menjadi momentum bersejarah bagi umat Buddha di Kabupaten Bone.
"Ini merupakan momen yang pertama, tiada duanya. Paling ramai dan akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Edi Siauw, menjelaskan Pujamantra merupakan pembacaan ayat-ayat suci yang dilakukan secara terus-menerus selama 24 jam. Tingginya antusiasme peserta membuat panitia membagi jadwal doa menjadi sesi-sesi satu jam.
"Hampir semua umat Buddha yang datang dari luar ikut terlibat, mulai dari Jakarta, Bali, Parepare, Bulukumba, Makassar, hingga berbagai daerah lainnya," ujarnya.
Menurut Edi, rangkaian doa tersebut dipersembahkan sebagai permohonan berkah menjelang pelantikan dan penggunaan gedung baru Aula Serbaguna Kaloka Sabha atau Graha Sabha.
"Tujuannya memohon berkah serta menghadirkan kebaikan dan kebajikan bagi semua makhluk hidup di dunia," katanya.
Di balik khidmatnya prosesi, setiap perlengkapan ibadah memiliki makna mendalam. Benang yang dirangkai saat berdoa melambangkan keterhubungan antarsesama dan menjadi simbol ikatan spiritual yang telah diwariskan dalam tradisi Buddhis.
Sementara foto-foto mendiang yang ditempatkan di area ibadah mengingatkan bahwa umat yang masih hidup dapat melimpahkan jasa kebajikan kepada para leluhur melalui perbuatan baik.
"Maknanya, kita yang masih hidup masih bisa berbuat kebajikan, kemudian jasa-jasa kebaikan itu kita limpahkan agar mereka yang telah meninggal memperoleh kebahagiaan," jelasnya.
Pelita beraneka warna yang menghiasi ruang ibadah juga memiliki filosofi tersendiri. Warna-warna tersebut melambangkan keberagaman umat yang tetap bersatu dalam keyakinan, sedangkan cahaya pelita menjadi simbol penerang kehidupan.
Adapun harum dupa yang memenuhi ruangan mengandung pesan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seseorang akan memberikan manfaat bagi sesama dan dikenang layaknya aroma wangi yang menyebar ke segala penjuru.
Selama 24 jam penuh, doa terus mengalir tanpa jeda. Di tengah lantunan mantra, cahaya pelita, dan harum dupa, Vihara Dharma Palakka menjadi ruang tempat harapan, penghormatan kepada leluhur, serta doa bagi kedamaian seluruh makhluk. Puncak peresmian gedung baru pada Minggu pagi menjadi penutup rangkaian ibadah yang tidak hanya menghadirkan perayaan, tetapi juga memperkuat nilai persaudaraan, toleransi, dan kebajikan di tengah keberagaman.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan saran dan informasi