UJUNGPENAMEDIA.COM,MAKASSAR-- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Prestasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong masyarakat Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, mengelola sampah organik rumah tangga secara mandiri melalui metode Kompos Takakura.
Program edukasi dan pelatihan tersebut digagas Adibah Salsabila Ramadhani Ahmad, mahasiswa Program Studi Biologi Unhas, dan dilaksanakan di Kantor Kelurahan Paccerakkang, Jumat (31/7/2026). Kegiatan ini diikuti jajaran RT dan RW setempat.
Program tersebut dilatarbelakangi tingginya timbulan sampah organik di Kota Makassar. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah organik menjadi komponen terbesar timbulan sampah di Kota Makassar, mencapai 2.135,51 meter kubik atau sekitar 54,70 persen dari total sampah.
Sementara itu, Kecamatan Biringkanaya tercatat sebagai salah satu wilayah dengan timbulan sampah tertinggi di Kota Makassar, yakni mencapai 553,33 meter kubik per hari.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya keterlibatan rumah tangga dalam mengurangi timbulan sampah. Terlebih, masih banyak sampah organik yang dibuang bercampur dengan sampah anorganik tanpa melalui proses pemilahan maupun pengolahan.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat dinilai penting untuk meningkatkan pengetahuan dan partisipasi dalam pemilahan, pengurangan, serta pengolahan sampah secara mandiri.
Dalam kegiatan tersebut, metode Kompos Takakura diperkenalkan sebagai salah satu solusi sederhana untuk mengolah sampah organik di tingkat rumah tangga.
Kompos Takakura merupakan metode pengomposan aerob menggunakan keranjang berventilasi dan starter kompos untuk membantu mempercepat proses penguraian bahan organik.
Metode ini dinilai mudah diterapkan karena tidak membutuhkan lahan luas, biaya relatif rendah, serta minim menimbulkan bau. Keunggulan tersebut membuat Kompos Takakura cocok diterapkan di lingkungan permukiman.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pengisian daftar hadir. Peserta kemudian mendapatkan materi mengenai jenis-jenis sampah organik serta tahapan pembuatan Kompos Takakura.
Materi dilanjutkan dengan demonstrasi langsung pembuatan kompos. Proses tersebut berlangsung interaktif karena peserta dapat berdiskusi dan mengajukan pertanyaan secara langsung selama demonstrasi.
Untuk mengukur pemahaman peserta, kegiatan ditutup dengan sesi kuis mengenai materi yang telah diberikan.
Melalui program ini, mahasiswa KKN berharap pengurus RT dan RW di Kelurahan Paccerakkang dapat menjadi penggerak dalam menerapkan sekaligus menyebarluaskan pengelolaan sampah organik rumah tangga kepada masyarakat.
Upaya tersebut diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah, meningkatkan nilai guna limbah organik, serta mendukung terciptanya lingkungan Kelurahan Paccerakkang yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan saran dan informasi