Pengikut

Translate

,

Mentan Amran: Papua Pegunungan Bukan untuk Sawah, Ubi Jalar Jadi Andalan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal

Tim Redaksi
2 Jul 2026, 7/02/2026 WIB Last Updated 2026-07-03T06:36:49Z

UJUNGPENAMEDIA.COM,JAKARTA--Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pembangunan pertanian di Papua harus mengedepankan kearifan lokal dengan menghormati budaya, kebiasaan, dan karakteristik masyarakat setempat. Komitmen itu diwujudkan melalui dukungan pemerintah terhadap pengembangan ubi jalar di Papua Pegunungan sebagai komoditas pangan utama yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara turun-temurun.


Penegasan tersebut disampaikan Mentan Amran saat menerima Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, di kediamannya, Kamis (2/7/2026). Pertemuan itu membahas strategi pengembangan ubi jalar sebagai komoditas unggulan yang disesuaikan dengan kondisi geografis, budaya, dan pola hidup masyarakat Papua Pegunungan.


Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, mengungkapkan sekitar 99 persen masyarakat di wilayahnya masih menjadikan ubi jalar sebagai makanan pokok. Karena itu, pembangunan sektor pertanian harus tetap menghormati nilai historis dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.


"Papua Pegunungan adalah tanah rakyat Papua. Sebanyak 99 persen masyarakat kami masih mempertahankan budaya makan ubi jalar dan tidak akan beralih menjadi daerah persawahan. Kami berharap pemerintah dapat mengangkat dan menghormati nilai historis serta budaya masyarakat Papua Pegunungan," ujar Ones.


Ia menambahkan, pengembangan ubi jalar berpotensi menjadi model pembangunan pertanian berbasis kearifan lokal yang dapat diterapkan di wilayah Papua lainnya, termasuk Papua Tengah.


Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran menegaskan pemerintah tidak akan menerapkan program cetak sawah di Papua Pegunungan. Sebaliknya, pemerintah akan fokus mengembangkan ubi jalar sebagai komoditas strategis melalui pendekatan berbasis kawasan dan pemberdayaan masyarakat lokal.


"Ini adalah kearifan lokal berdasarkan kebiasaan dan budaya masyarakat. Jadi program di Papua Pegunungan bukan program cetak sawah, tetapi pengembangan ubi jalar sebagai komoditas pangan utama masyarakat," tegas Mentan Amran.


Sebagai langkah awal, Kementerian Pertanian akan mengembangkan kawasan budidaya ubi jalar seluas 100 hingga 200 hektare di setiap kabupaten di Papua Pegunungan. Program tersebut akan dievaluasi sebelum diperluas secara bertahap sesuai hasil dan kemampuan anggaran.


"Kita mulai dulu sekitar 100 sampai 200 hektare per kabupaten. Kalau berhasil, tahun depan kita tingkatkan lagi. Ini akan kita bangun menjadi kawasan lumbung pangan berbasis ubi," katanya.


Mentan Amran juga memastikan pemerintah akan mengutamakan penggunaan benih lokal yang dibeli langsung dari masyarakat Papua agar manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh petani setempat.


"Bagaimana kalau benihnya kita beli langsung dari masyarakat? Jadi tidak perlu didatangkan dari luar. Pembibitan kita bangun di lokasi supaya ekonomi bisa berputar di daerah sendiri," ujarnya.


Selain itu, Kementerian Pertanian akan menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi yang sesuai dengan sistem budidaya masyarakat Papua Pegunungan, seperti linggis, parang, sekop, kapak, dan peralatan pendukung lainnya.


"Karena ini bukan pertanian sawah, pendekatannya juga harus sesuai dengan kondisi wilayah dan budaya setempat," tambahnya.


Menurut Mentan Amran, pengembangan ubi jalar tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan pangan masyarakat Papua Pegunungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan melalui pengolahan pascapanen dan hilirisasi produk.


"Kita dorong pengembangan ubi dalam skala besar agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, baik untuk konsumsi maupun dijual. Ke depan juga bisa diolah agar memiliki nilai tambah dan masa simpan yang lebih panjang. Untuk itu kita akan melihat kebutuhan teknologi pengeringan atau dryer," jelasnya.


Ia menilai ubi jalar Papua memiliki prospek ekonomi yang besar karena sesuai dengan kondisi iklim setempat dan memiliki peluang pasar yang luas.


"Kalau dikelola dengan baik, bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga memiliki peluang pasar yang besar dan nilai ekonomi yang tinggi," kata Mentan Amran.


Sementara itu, Ones Pahabol menyambut baik dukungan pemerintah dan berharap program pengembangan ubi jalar di Papua Pegunungan dapat menjadi contoh pembangunan pertanian berbasis kearifan lokal bagi wilayah Papua lainnya.


Pertemuan tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk membangun sektor pertanian Papua berdasarkan potensi daerah, budaya, dan kebutuhan masyarakat. Melalui pengembangan ubi jalar sebagai komoditas unggulan, pemerintah berharap ketahanan pangan semakin kuat, kesejahteraan petani meningkat, serta kearifan lokal Papua tetap terjaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi