Pengikut

Translate

,

Belajar dari Petani Desa Lapasa: Kerja Keras yang Berbuah Manis

Tim Redaksi
1 Jul 2026, 7/01/2026 WIB Last Updated 2026-07-02T04:26:08Z

Oleh: Marwi

Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bone


Pemandangan kebun cabai di Desa Lapasa, Kecamatan Mare, saat ini sungguh memanjakan mata. Hasil panen yang melimpah itu bukan semata keberuntungan, melainkan buah dari kerja keras, ketelatenan, dan kesabaran para petani dalam merawat tanaman setiap hari.


Bertani tidak dapat dilakukan secara asal-asalan. Mulai dari pemilihan bibit yang unggul, pemberian pupuk secara teratur, hingga pengendalian hama secara cermat, semuanya dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Seperti diungkapkan salah satu petani, rasa lega dan syukur yang mendalam terasa saat usaha yang dijalani berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan.


Meski panen melimpah, timbul satu pertanyaan: apakah hasil sebesar ini sudah cukup menjamin kesejahteraan petani?


Pada kenyataannya, setelah panen tiba, mereka kerap menghadapi kesulitan dalam menentukan harga jual karena masih bergantung sepenuhnya pada pengepul. Padahal, kualitas cabai yang dihasilkan sangat baik dan segar. Sangat disayangkan jika jerih payah mereka tidak dihargai secara layak hanya karena rantai distribusi yang masih panjang dan belum efisien.


Pengalaman di Desa Lapasa membuktikan bahwa lahan milik warga memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian keluarga, asalkan dikelola dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah dan seluruh pihak sangat dibutuhkan—bukan sekadar pujian, melainkan bantuan nyata untuk mempermudah akses petani memasarkan hasil panennya langsung ke pasar.


Semoga keberhasilan ini menjadi penyemangat bagi petani di daerah lain. Mari kita dukung petani lokal, karena dari tangan merekalah kebutuhan pangan sehari-hari kita dapat terpenuhi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi