Pengikut

Translate

,

Bupati Bone Studi Tiru Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Bali, Bidik Penguatan Ekonomi Peternak

Tim Redaksi
21 Agu 2026, 8/21/2026 WIB Last Updated 2026-08-22T05:09:42Z



UJUNGPENAMEDIA.COM,BANGLI --Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., melakukan kunjungan kerja ke Kelompok Dana Mertamasari dan Kelompok Tani Gopawinangon di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (22/8/2026).


Kunjungan tersebut merupakan bagian dari studi tiru Pemerintah Kabupaten Bone untuk mendalami penerapan program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT), mulai dari pengelolaan peternakan, produksi telur, hingga pemasaran hasil.


Salah satu kelompok penerima manfaat HAT yang dikunjungi mengelola sekitar 600 ekor ayam dengan tingkat produksi telur mencapai sekitar 80 persen. Hasil produksi tersebut kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pasar desa.



Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman mengatakan, kunjungan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai pola pengelolaan peternakan secara terintegrasi yang mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.


“Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik. Kami di Kabupaten Bone sedang bersiap mengembangkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi,” kata Andi Asman.


Menurutnya, Kabupaten Bone memiliki potensi besar untuk mengembangkan HAT karena ditopang produksi pertanian, khususnya padi dan jagung, yang cukup besar.


“Kami di Bone itu memiliki produksi padi dan jagung yang besar, dan saat ini produksi ayam juga sedang menjadi tren. Potensi ini yang ingin kami integrasikan,” ujarnya.


Kepala BPTU-HPT Denpasar drh. I Gusti Putu Ngurah Raka menjelaskan, kelompok yang dikunjungi merupakan salah satu penerima manfaat program HAT. Pola tersebut menjadi contoh pengembangan peternakan berbasis kelompok dengan hasil produksi yang memiliki kepastian penyerapan pasar.


Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI I Nyoman Adi Wiryatama yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan sektor pertanian dan peternakan. Ia mengaku memiliki latar belakang keluarga petani serta pengalaman dalam beternak.


“Saya mantan Bupati Tabanan dua periode, Ketua DPRD Bali dua periode. Saya anak petani dan saya suka beternak. Saya juga memiliki ratusan ternak,” ungkapnya.


I Nyoman juga memaparkan inovasi berupa mikroba yang dikembangkannya untuk membantu mengendalikan lalat di lingkungan peternakan.


Ia turut menyinggung hubungan historis antara Bali dan Bone yang telah terjalin sejak masa kerajaan. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi salah satu sisi penting dalam mempererat hubungan kedua daerah.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar Dr. drh. I Gde Eka Budhiyadnya, M.P., Kepala BPTU-HPT Denpasar drh. I Gusti Putu Ngurah Raka, serta General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari A.S. Hasbi Al Islahi.


Turut hadir Ketua Kelompok Tani Wanita dan jajaran terkait lainnya.


Melalui studi tiru tersebut, Pemkab Bone diharapkan memperoleh referensi dalam membangun ekosistem HAT yang terintegrasi, mulai dari penyediaan pakan, budidaya ayam, produksi telur, hingga penyerapan hasil untuk kebutuhan pasar dan program pemenuhan gizi masyarakat.


General Manager (GM) Corporate Secretary & CSR PT Berdikari, AS Hasbi Al Islahi menegaskan bahwa Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) bukan sekadar pembangunan industri peternakan, tetapi dirancang untuk membangun ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir sekaligus memperkuat peran peternak rakyat.


Program HAT yang dikembangkan PT Berdikari di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas sentra produksi protein hewani di luar Pulau Jawa. Bone sendiri menjadi salah satu lokasi prioritas pengembangan program tersebut. (DJPKH⁠)


Menurut Hasbi, konsep integrasi tersebut akan mencakup pembibitan, penyediaan pakan, budidaya, hingga penyerapan dan pengolahan hasil produksi. Peternak rakyat nantinya menjadi bagian penting dalam rantai produksi melalui pola kemitraan.


“Konsepnya bukan hanya membangun kandang atau menghasilkan ayam, tetapi membangun ekosistem dari hulu sampai hilir. Peternak rakyat harus menjadi bagian utama dari ekosistem ini sehingga mereka mendapatkan kepastian usaha, akses input produksi, teknologi, sekaligus pasar,” ujarnya.


Hasbi menambahkan, PT Berdikari juga mendapat mandat untuk memperkuat sektor hulu melalui pengembangan Grand Parent (GP) Farm, Parent Stock, serta produksi DOC dan pakan. Sebagian hasil produksi selanjutnya dapat dikembangkan melalui kemitraan dengan peternak rakyat.


“Harapannya, produktivitas peternak meningkat, biaya produksi lebih kompetitif, dan hasil ternak memiliki kepastian pasar. Dengan begitu, manfaat hilirisasi tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat dan peternak di daerah,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi