Pengikut

Translate

,

Bukan Sekadar Microneedles, Inovasi Mahasiswa Unhas Ini Gabungkan Penargetan Hati dan Antioksidan

Tim Redaksi
9 Sep 2026, 9/09/2026 WIB Last Updated 2026-09-09T08:47:43Z

UJUNGPENAMEDIA.COM,MAKASSAR -- Sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi teknologi penghantaran obat yang ditujukan untuk meningkatkan ketepatan terapi Hepatitis C.


Melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) 2026, tim HEMPAS mengembangkan dual-function sublingual microneedles (DFMs), sebuah sistem penghantaran sofosbuvir (SOF) melalui jaringan bawah lidah yang dirancang agar obat dapat terakumulasi lebih selektif di jaringan hati sekaligus membawa fungsi antioksidan.



Inovasi ini dikembangkan sebagai respons terhadap tantangan terapi Hepatitis C, penyakit akibat infeksi virus yang menyerang organ hati dan dapat berkembang menjadi komplikasi serius, seperti sirosis hingga karsinoma hati.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2025 memperkirakan sekitar 50 juta orang di dunia hidup dengan Hepatitis C, dengan sekitar 1 juta kasus infeksi baru setiap tahun. Di Indonesia, jumlah penderita diperkirakan mencapai 2,5 juta orang pada 2023.


Salah satu obat yang digunakan dalam terapi Hepatitis C adalah sofosbuvir. Meski efektif menghambat replikasi virus, karakteristik farmakokinetiknya menjadi tantangan dalam upaya mengembangkan sistem penghantaran obat yang lebih terarah. Pemberian secara oral juga memiliki keterbatasan dalam proses penyerapan dan distribusi obat menuju jaringan sasaran.


Berangkat dari persoalan tersebut, tim HEMPAS mengembangkan DFMs sebagai alternatif sistem penghantaran obat melalui rute sublingual. Jalur ini memanfaatkan jaringan vaskular di bawah lidah sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi tanpa melalui metabolisme lintas pertama di hati.


“DFMs kami dirancang untuk diaplikasikan secara sublingual menggunakan aplikator tiga dimensi berbahan polylactic acid (PLA). Sistem ini dapat melarut dalam waktu 30 detik dan memungkinkan obat dihantarkan melalui jaringan vaskular sublingual tanpa melalui metabolisme lintas pertama,” jelas Ketua Tim HEMPAS, Nun Salsabila Maddeppungeng.


Tak hanya mengembangkan metode penghantaran, tim juga mengintegrasikan komponen penargetan dan antioksidan dalam formulasi tersebut.


Tim memanfaatkan lactosylated nanoparticles (Lact-NS) yang dirancang untuk berinteraksi dengan asialoglycoprotein receptor (ASGPR) pada sel hati. Formulasi tersebut kemudian dipadukan dengan alfa-tokoferol (TKF), yang berfungsi sebagai komponen antioksidan untuk membantu menekan pembentukan reactive oxygen species (ROS).


Pengembangan teknologi dilakukan melalui sejumlah tahapan penelitian, mulai dari formulasi dan karakterisasi fisika-kimia, pengujian pelepasan dan permeasi obat, hingga evaluasi aktivitas antioksidan.


Penelitian juga melibatkan molecular docking untuk mempelajari interaksi molekuler, serta berbagai pengujian keamanan, termasuk hemolisis, HET-CAM, dan histopatologi.


Hasil pengujian menunjukkan sediaan yang dikembangkan tidak menunjukkan efek iritasi, sementara persentase hemolisis berada di bawah 5 persen.


Pada pengujian in vivo, pemberian SOF menggunakan DFMs juga dilaporkan menghasilkan akumulasi obat di jaringan hati yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pemberian SOF secara oral konvensional.


Anggota tim, Utari Taqiyyah Abdullah, mengatakan pengembangan teknologi tersebut berangkat dari upaya mencari pendekatan penghantaran obat yang lebih terarah dan efektif.


“Fokus utama kami adalah memastikan obat dapat mencapai hati secara lebih selektif sekaligus memberikan perlindungan terhadap stres oksidatif. Kami berharap hasil riset ini dapat menjadi salah satu kontribusi bagi pengembangan bioteknologi farmasi di Indonesia,” ujar Utari.


Tim HEMPAS terdiri atas Nun Salsabila Maddeppungeng dari Program Studi Farmasi 2023, Utari Taqiyyah Abdullah (Farmasi 2023), Mir Atul Ghinayah A. (Farmasi 2023), Andi Nurcholifah Tri Handayani (Farmasi 2024), dan Rifqie Taesir (Kedokteran 2023).


Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan apt. Alghifary Anas Achmad, S.Si., M.Si. Riset yang didanai Belmawa dan Universitas Hasanuddin itu telah dilaksanakan sejak Juni 2026 di Laboratorium Farmasetika dan Biofarmasi, Fakultas Farmasi Unhas.


Selain penelitian, tim HEMPAS turut melakukan diseminasi informasi melalui media sosial resmi mereka, termasuk edukasi mengenai Hepatitis C kepada masyarakat.


“Kami berharap pengembangan DFMs dapat menjadi langkah awal bagi lahirnya pendekatan baru dalam sistem penghantaran obat dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan terapi Hepatitis C di masa mendatang,” tutur Mir Atul Ghinayah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi