UJUNGPENAMEDIA.COM,JAKARTA--Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menggagas Gerakan Kembali Berkebun bersama 150 mahasiswa Papua sebagai upaya membangun perekonomian masyarakat dari tanah sendiri melalui pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal. Gerakan ini diharapkan melahirkan generasi muda Papua yang menjadi penggerak pembangunan pertanian sekaligus pencipta lapangan kerja di daerahnya.
Gagasan tersebut disampaikan Mentan Amran saat berdialog dengan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di kediamannya di Jakarta, Kamis (2/7/2026). Pertemuan berlangsung hangat dan diikuti mahasiswa dari Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, hingga Papua Induk.
Dalam dialog itu, para mahasiswa memaparkan berbagai potensi komoditas unggulan daerah, mulai dari ubi jalar, sagu, pala, kakao, kopi, hingga sektor peternakan. Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa pembangunan pertanian di Papua harus bertumpu pada kekuatan komoditas lokal dan pemanfaatan lahan milik masyarakat.
"Kita harus membangun ekonomi dari desa. Mahasiswa seperti kalian adalah putra-putri terbaik Tanah Papua. Kalian yang bisa mengangkat ekonomi Papua karena memiliki pengetahuan, kecerdasan, dan lahan yang harus dibangun," ujar Mentan Amran.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Mentan Amran langsung membantu salah seorang mahasiswa Papua, Anton, yang telah memiliki lahan pertanian seluas tujuh hektare dan membina kelompok tani di kampung halamannya. Melihat keseriusan tersebut, ia menambah dukungan pengembangan lahan seluas lima hektare.
"Kalau sudah punya lahan sendiri dan sudah mulai bergerak, kita harus dukung. Saya tambah lima hektare lagi. Yang penting dikerjakan dengan baik dan bisa menjadi contoh bagi anak-anak muda Papua lainnya," katanya.
Menurut Mentan Amran, keterlibatan mahasiswa menjadi strategi penting untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Papua. Pemerintah ingin generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja melalui pertanian modern berbasis potensi daerah.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa yang masih memiliki lahan keluarga untuk mulai mengelolanya sejak masih menempuh pendidikan.
"Saya ingin membangun Gerakan Pemuda Tani Papua. Kalau adik-adik mahasiswa punya lahan di kampung, mari kita tanam mulai sekarang. Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai," ujarnya.
Ia mencontohkan komoditas kopi dan pala yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan memanfaatkan lahan keluarga sebagai modal awal, mahasiswa dinilai dapat membangun usaha pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
"Kalau ada mahasiswa punya dua hektare lahan dan ditanami kopi atau pala, begitu selesai kuliah hasilnya sudah bisa menjadi sumber pendapatan. Kita harus membangun ekonomi dari desa, membangun ekonomi dari tanah kita sendiri," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran juga mengumumkan penambahan bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda Papua Pegunungan yang sebelumnya telah membuka lahan kopi seluas 48 hektare.
Selain itu, pemerintah menyiapkan bantuan alat pertanian seperti linggis, sekop, parang, dan peralatan lainnya untuk mendukung pengembangan pangan lokal, khususnya ubi jalar di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
"Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kita siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal," kata Mentan Amran.
Mahasiswa asal Papua Barat Daya, Ronaldo Jakub Inesta, mengapresiasi respons cepat Mentan Amran terhadap aspirasi mahasiswa. Menurutnya, dialog tersebut menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa Papua untuk menyampaikan langsung potensi daerah kepada pemerintah.
"Menurut saya, Pak Menteri orangnya tegas, rendah hati, dan sangat cekatan. Apa yang kami sampaikan langsung dicatat dan ditindaklanjuti. Kesempatan seperti ini sangat baik karena jarang sekali mahasiswa bisa berdialog langsung dengan seorang menteri," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai, menilai Gerakan Kembali Berkebun bukan hanya gerakan ekonomi, tetapi juga gerakan budaya yang menghidupkan kembali keterikatan masyarakat Papua dengan tanah adat dan komoditas lokal.
"Gerakan kembali ke kebun bukan hanya gerakan ekonomi, tetapi juga gerakan budaya. Kita ingin menghidupkan kembali komoditas-komoditas lokal yang menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Papua, sekaligus menjadikan tanah adat sebagai sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan masa depan," kata Velix.
Ia menambahkan, setiap wilayah Papua memiliki keunggulan komoditas yang berbeda, mulai dari ubi jalar di kawasan pegunungan, sagu di wilayah rawa, hingga kopi, kakao, dan pala. Karena itu, pembangunan pertanian berbasis potensi lokal dinilai menjadi strategi tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Mentan Amran berharap Gerakan Kembali Berkebun menjadi titik awal lahirnya generasi baru petani muda Papua yang mampu mengembangkan potensi daerah, memperkuat ketahanan pangan lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Melalui gerakan ini, Papua diharapkan tumbuh sebagai salah satu pusat kekuatan pertanian Indonesia di masa depan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan saran dan informasi