Pengikut

Translate

,

Bone Bidik Jadi Pusat Industri Ayam, Investasi Awal HAT Capai Rp627 Miliar

Tim Redaksi
22 Agu 2026, 8/22/2026 WIB Last Updated 2026-08-23T03:56:53Z

UJUNGPENAMEDIA.COM,BANGLI -- Rencana pembangunan Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, diproyeksikan bukan sekadar proyek pengembangan peternakan. Investasi tersebut diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat ketersediaan protein nasional.


General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari, A.S. Hasbi Al Islahi, mengatakan pembangunan HAT Bone merupakan bagian dari program unggulan Kementerian Pertanian (Kementan) yang tengah didorong menjadi program strategis nasional.


Investasi tahap awal HAT Bone mencapai sekitar Rp627 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun tiga unit bisnis utama, yakni farm Parent Stock (PS), feed mill atau pabrik pakan, serta hatchery.


“Yang pertama adalah farm PS, Parent Stock, jadi indukan dengan kapasitas 168.000 ekor. Yang kedua feed mill atau pabrik pakan dengan kapasitas 10.000 ton per bulan. Kemudian hatchery dengan kapasitas 500.000 per minggu,” kata Hasbi.


Pembangunan HAT Bone merupakan bagian dari investasi HAT secara nasional yang nilainya mencapai sekitar Rp18 triliun. Pada tahap pertama, pemerintah menyiapkan sekitar Rp2,3 triliun untuk sejumlah lokasi, termasuk Bone, Nusa Tenggara Barat (NTB), Malang, Lampung, dan Gorontalo.


“Artinya hampir 27 persen itu digelontorkan di Bone,” ujarnya.


Bukan Sekadar Proyek Pemerintah


Hasbi menegaskan HAT harus dikembangkan dengan pendekatan bisnis yang berkelanjutan. Investasi negara yang besar, kata dia, harus mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang terus berputar dan tidak berakhir menjadi proyek mangkrak.


“Pembangunan ini tidak sekadar project semata, project unggulan Kementan, bukan. Tetapi ini masuk ke pendekatan business approach,” tegasnya.


Efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan menjadi faktor penting dalam pengelolaan HAT.


“Jangan sampai kita investasi kemudian mangkrak. Kita pastikan bahwa ini adalah the real business,” katanya.


Menurut Hasbi, efek berganda dari investasi tersebut akan terasa hingga ke sektor hilir. Produksi dari farm dan feed mill nantinya dapat berkembang menjadi produk olahan seperti karkas, sosis, ayam beku hingga produk siap konsumsi.


“Bayangkan akan berapa triliun multiplier effect-nya terasa di masyarakat,” ujarnya.


Serap Lebih dari 1.000 Tenaga Kerja


HAT Bone juga diproyeksikan membuka lapangan kerja dalam jumlah besar. Pada tahap awal, tiga unit bisnis utama diperkirakan mampu menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja.


“168.000 ekor itu tenaga kerjanya bisa di atas 300 orang. Itu baru farm, belum hatchery, belum feed mill,” kata Hasbi.


Selain tenaga kerja, keberadaan HAT diharapkan mampu memperluas keterlibatan UMKM dan menggerakkan sektor ekonomi masyarakat.


“Kita akan melibatkan infrastruktur masyarakat, UMKM untuk memutar ekonomi. Ini yang lebih menarik,” ujarnya.


Hilirisasi juga akan meningkatkan nilai tambah produk karena hasil produksi tidak berhenti pada bahan baku maupun barang setengah jadi.


“Yang akan keluar dari Bone itu bukan hanya barang baku dan barang setengah jadi, tapi barang jadi. Contohnya meat processing, ready to eat, ayam frozen, sosis dan daging,” katanya.


Bone Diproyeksikan Jadi Hub Protein Indonesia Timur


PT Berdikari juga mendorong Bone berkembang sebagai hub distribusi protein untuk kawasan Indonesia Timur.


“Bone harus jadi hub, harus menjadi jembatan untuk mendistribusikan ke Indonesia Timur. Ini tantangan terbesarnya. Jadi kita jangan terlalu eksklusif, harus inklusif,” ujar Hasbi.


Untuk mewujudkan konsep tersebut, pembangunan infrastruktur pendukung menjadi hal penting. Salah satunya adalah cold chain dan cold storage untuk menjaga kualitas produk sekaligus memastikan distribusi antarwilayah berjalan optimal.


Perkuat Stok Protein Nasional


HAT Bone juga diarahkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus memperkuat stok protein nasional.


Hasbi mengatakan produksi ayam dari pengembangan HAT secara keseluruhan diproyeksikan menghasilkan surplus yang besar. Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.


“Output dari HAT ini tidak sekadar kita mendukung MBG, tetapi kita ingin juga menjadi stok protein nasional,” katanya.


Menurutnya, kebutuhan protein nasional akan terus meningkat seiring dengan program pemerintah dan target Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.


“Kalau kita bicara Indonesia Emas 2045, maka sudah pasti akan wajib adanya peningkatan konsumsi protein. Artinya market kita semakin lebar,” ujarnya.


Tahap Berikutnya Bidik RPHU dan Industri Olahan


Pembangunan tahap awal HAT Bone belum mencakup fasilitas Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) maupun industri pengolahan daging. Kedua fasilitas tersebut direncanakan masuk dalam pengembangan tahap berikutnya.


Hasbi bahkan mendorong Pemerintah Kabupaten Bone mempertimbangkan pembentukan BUMD yang bergerak di sektor hilirisasi peternakan.


“Bisa jadi nanti Berdikari yang bangun atau segera Pak Bupati bangun melalui BUMD, bikin BUMD hilirisasi peternakan. Bikin RPHU, bikin meat processing di sana,” katanya.


Menurutnya, pengembangan tersebut dapat membuka sumber pendapatan baru bagi daerah sekaligus memperluas kemitraan dengan pelaku UMKM.


Perizinan dan Studi Kelayakan Dikebut


Saat ini pembangunan HAT Bone masih berada pada tahap perizinan dan persiapan feasibility study (FS).


Tim konsultan dari Sucofindo dan Surveyor Indonesia dijadwalkan turun ke Bone untuk melakukan pengumpulan data. Studi tersebut ditargetkan rampung sekitar 30 hari dan diupayakan lebih cepat.


“Setelah itu tahap berikutnya selesai di akhir bulan, di pertengahan minggu kedua September, maka kita akan masuk ke konsultan konstruksi. Itu juga kajian cepat dan mudah-mudahan di Oktober sudah bisa terbangun,” ujar Hasbi.


Untuk perizinan, Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) telah terbit. Sementara dokumen lingkungan berupa UKL-UPL atau AMDAL sedang dipersiapkan bersama Universitas Hasanuddin (Unhas).


Kendala yang masih menjadi perhatian adalah proses perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU) pada lahan yang disiapkan PTPN I.


“Kalau bicara progress report ke Presiden, secara keseluruhan dari enam titik itu sudah sekitar 5,7 persen. Untuk Bone sendiri saya tidak tahu berapa,” katanya.


Masyarakat Diminta Ikut Mengawal


Hasbi mengajak masyarakat Bone ikut mengawal pembangunan HAT agar investasi negara tersebut berjalan sesuai tujuan.


Ia mengingatkan agar proyek tidak terganggu praktik yang dapat meningkatkan biaya dan menghambat efisiensi bisnis.


“Saya ingin masyarakat Bone menyambut ini. Kita tongkrongin bersama, kita plototi. Kenapa? Karena jangan sampai ini jadi kontraproduktif,” katanya.


Ia menegaskan pembangunan HAT harus berlangsung dalam iklim usaha yang sehat, tanpa praktik premanisme maupun pungutan yang dapat mengganggu efisiensi.


“Betul-betul harus diplototi, kita harus efisien. Tidak boleh ada orang yang malak-malak, tidak boleh ada premanisme, sehingga bisnis efisien dan sustained,” tegasnya.


Dengan investasi awal sekitar Rp627 miliar, tiga unit bisnis utama, potensi penyerapan lebih dari 1.000 tenaga kerja, serta peluang pengembangan RPHU dan industri pengolahan, HAT Bone diharapkan berkembang menjadi ekosistem bisnis peternakan dari hulu hingga hilir.


Proyek tersebut juga diharapkan meningkatkan nilai tambah produk, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, memperkuat ketahanan protein nasional, serta menempatkan Bone sebagai salah satu simpul distribusi pangan dan protein untuk kawasan Indonesia Timur. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi