Pengikut

Translate

,

Mahasiswa KKN Posko 81 IAIN Bone Sulap Bonggol Jagung Jadi Briket Bernilai Ekonomi

Tim Redaksi
25 Agu 2026, 8/25/2026 WIB Last Updated 2026-08-26T04:34:13Z



UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE --Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 81 IAIN Bone menghadirkan inovasi BOJARI (Bonggol Jagung Bernilai, Desa Sejahtera) di Desa Binuang, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone.


Program tersebut menjadi upaya mahasiswa dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah pertanian. "Salah satu fokusnya adalah mengolah bonggol jagung menjadi briket sebagai sumber energi alternatif yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi" ungkap Koordinator KKN IAIN Bone Desa Binuang, Andi Muh. Fajri Ramadhan Agsyam


Selama ini, bonggol jagung yang tersisa setelah masa panen masih kerap dibiarkan menumpuk atau dibakar secara terbuka. Padahal, limbah tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif yang memiliki manfaat bagi kebutuhan energi rumah tangga sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.




Melalui program BOJARI, mahasiswa KKN Posko 81 memberikan edukasi mengenai tahapan pengolahan bonggol jagung menjadi briket. Masyarakat diperkenalkan mulai dari proses pengeringan bonggol jagung, pengarangan, penghalusan dan penyaringan arang, pencampuran dengan perekat alami berupa tepung tapioka, hingga pencetakan menjadi briket.


"Tahapan tersebut diperkenalkan secara sederhana agar mudah dipahami dan nantinya dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat," jelasnya.


Selain aspek pemanfaatan energi, mahasiswa juga menjelaskan potensi briket bonggol jagung dari sisi lingkungan. Pemanfaatan limbah pertanian menjadi bahan bakar alternatif dapat membantu mengurangi kebiasaan pembakaran limbah secara terbuka serta mendukung kebersihan lingkungan desa.


Program BOJARI juga diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bonggol jagung yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual dan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.


Konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengubah limbah hasil pertanian menjadi produk yang kembali memiliki manfaat dan nilai ekonomi di lingkungan masyarakat.


Pengembangan usaha briket juga dinilai dapat dimulai dalam skala rumah tangga. Peralatan yang digunakan relatif sederhana dan dapat memanfaatkan bahan maupun perlengkapan yang mudah diperoleh, seperti drum bekas, alat penumbuk dan cetakan sederhana.


"Dengan demikian, masyarakat dapat memulai produksi dalam skala kecil sebelum dikembangkan menjadi usaha yang lebih besar," ujar Fajri 


Antusiasme masyarakat Desa Binuang terhadap program tersebut mendapat respons positif. Warga mengapresiasi kehadiran BOJARI karena memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan bonggol jagung yang selama ini belum dimaksimalkan.


Masyarakat juga menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari secara langsung proses pembuatan briket dan berharap pelatihan serupa dapat dilanjutkan secara berkelanjutan. Dengan pendampingan lanjutan, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu memproduksi briket secara mandiri.


Salah seorang warga mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru bahwa limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.


Respons tersebut menjadi salah satu indikator bahwa inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN mendapat penerimaan positif di tengah masyarakat.


Melalui BOJARI, mahasiswa KKN Posko 81 IAIN Bone berupaya membangun kesadaran bahwa potensi desa tidak hanya berasal dari hasil pertanian utama, tetapi juga dari limbah yang dihasilkan setelah panen.


Bonggol jagung yang sebelumnya hanya menjadi sisa pertanian dapat dikumpulkan, diolah dan dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat untuk kebutuhan energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru.


Ke depan, keberlanjutan program BOJARI diharapkan tidak berhenti selama masa pelaksanaan KKN. Antusiasme masyarakat untuk memperoleh pelatihan lanjutan menjadi modal penting dalam mendorong terbentuknya kelompok masyarakat yang mampu mengolah limbah jagung secara mandiri.


Jika dikembangkan secara konsisten, usaha tersebut berpotensi melibatkan petani, pemuda, kelompok masyarakat hingga pelaku UMKM di Desa Binuang.


Melalui semangat “Bonggol Jagung Bernilai, Desa Sejahtera”, BOJARI menjadi langkah sederhana dalam mengubah cara pandang terhadap limbah pertanian. Sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sisa dan tidak bernilai dapat diolah menjadi sumber energi, peluang usaha sekaligus bagian dari upaya menjaga lingkungan.


Dengan kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan, inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang serta mendorong masyarakat Desa Binuang menjadi lebih mandiri, produktif dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran dan informasi