UJUNGPENAMEDIA.COM,BONE --Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., membuka secara resmi Diskusi Publik dan Workshop Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Tahun 2026 yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bone di Hotel Helios Bone, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Bone memperkuat perencanaan, mitigasi, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di wilayah tersebut.
Hadir dalam kegiatan itu Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan Muh. Doddy Rahmat, S.T., M.M., Tenaga Ahli BPBD Sulsel Leonardi Sambo, S.E., M.Si., Kalaksa BPBD Bone Andi Muhammad Ikbal, S.STP., Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bone A. Muhammad Rezki Firdaus, S.E., M.Si., para camat, perwakilan rumah sakit, akademisi, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Andi Akmal menegaskan, penyusunan KRB merupakan langkah strategis untuk mengidentifikasi dan memetakan potensi ancaman bencana, tingkat kerentanan masyarakat, serta kapasitas daerah dalam menghadapi risiko bencana.
Menurutnya, dokumen KRB tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif atau sekadar formalitas. Dokumen tersebut harus menjadi instrumen penting dalam menentukan arah kebijakan pembangunan daerah agar lebih aman, tangguh, efektif, dan berkelanjutan.
“Melalui kajian risiko bencana yang komprehensif, kita dapat mengetahui potensi ancaman dan kerentanan yang ada, sehingga langkah-langkah mitigasi dan penanggulangan bencana dapat dilakukan secara lebih tepat, terukur, dan terpadu,” ujar Andi Akmal.
Ia juga mengapresiasi kinerja BPBD Kabupaten Bone yang dinilai responsif dan sigap dalam menangani berbagai persoalan kebencanaan di lapangan. Namun, menurutnya, respons terhadap bencana harus dibarengi dengan langkah antisipasi teknis serta perencanaan jangka panjang yang matang.
“Bencana memang tidak bisa kita prediksi secara pasti karena itu kehendak Yang Maha Kuasa. Namun, manusia wajib melakukan mitigasi. Dalam bahasa pemerintahannya, kita harus menyediakan payung sebelum hujan melalui perencanaan mitigasi dan penanggulangan bencana yang matang,” tegasnya.
Andi Akmal meminta agar Dokumen KRB 2026 tidak hanya menjadi dokumen di atas kertas, tetapi benar-benar terintegrasi ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk RPJMD dan RKPD.
Ia mencontohkan pentingnya kajian risiko dalam pembangunan infrastruktur. Menurutnya, pembangunan jembatan maupun irigasi harus mempertimbangkan kondisi topografi dan potensi bencana agar anggaran yang dikeluarkan tidak sia-sia.
“Pembangunan di Bone harus mengacu pada dokumen KRB. Jangan sampai kita membangun jembatan atau irigasi dengan anggaran besar, tetapi karena menyalahi kajian topografi dan analisis risiko bencana, akhirnya hancur dihantam banjir bandang,” ujarnya.
Selain aspek teknis dan penataan infrastruktur, Wabup Bone juga menekankan pentingnya pendekatan pentahelix dalam pengelolaan risiko bencana.
Pendekatan tersebut melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, dan media.
“Bencana bukan hanya urusan BPBD, SAR, atau PMI, melainkan tanggung jawab kita bersama karena dampaknya dirasakan oleh seluruh masyarakat. Kita membutuhkan kajian ilmiah dari akademisi, inovasi dari pengusaha, kearifan lokal dari komunitas, ketegasan pemerintah, serta pengawasan dan publikasi dari media,” paparnya.
Andi Akmal turut menyoroti ancaman bencana hidrometeorologi, termasuk kekeringan dan krisis air bersih. Menurutnya, ancaman tersebut harus diantisipasi melalui pengelolaan lingkungan serta kawasan hulu sungai secara lebih serius.
Karena itu, Pemkab Bone berkomitmen memperkuat perlindungan daerah resapan air serta menindak berbagai pelanggaran yang berpotensi meningkatkan risiko bencana.
Di hadapan jajaran pemerintah daerah, Andi Akmal juga mengajak seluruh ASN meninggalkan pola kerja lama yang tidak produktif dan menghindari laporan yang hanya berorientasi pada formalitas.
Ia mendorong seluruh jajaran Pemkab Bone bekerja secara cerdas, profesional, dan berorientasi pada hasil.
“Tinggalkan cara-cara lama yang tidak produktif. Kita harus bekerja secara smart dan profesional. Di tengah keterbatasan yang ada, jika kita mampu menghasilkan karya yang besar, di situlah letak prestasi sesungguhnya,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh pihak mengesampingkan ego dan dinamika politik untuk bersama-sama mewujudkan Bone Maberre yang mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Andi Akmal berharap penyusunan KRB Tahun 2026 menghasilkan dokumen yang berkualitas, berbasis data, dan sesuai dengan karakteristik wilayah Kabupaten Bone.
Dokumen tersebut diharapkan menjadi salah satu rujukan utama dalam menyusun strategi pengurangan risiko bencana, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, serta mendukung kebijakan pembangunan daerah yang lebih tangguh menghadapi bencana. (*)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan saran dan informasi